arjamudhine











{Februari 6, 2012}   Islam Dan Budaya Jambi

KATA PENGANTAR

 

Assalamualikum wr.wb

Pertama-tama, saya mengajak semua untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah begitu banyak melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dalam perlindungan-Nya.

Pada kesempatan ini, perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Aminudin, S.Ag.M.Fil.I  selaku pembimbing  mata kuliah Islam dan Budaya Jambi, serta sahabat/i yang memberikan kritik dan sarannya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari makalah ini jauh dari sempurna dan tentu masih banyak kesalahan, kejanggalan dan kehilafan serta kekurangan disana sini. Tapi ini bukan lah halangan untuk memahami mata kuliah kebijakan publik ini, justru ini akan menjadi pendorong semangat dalam mengejar pengetahuan di maksud untuk di kuasai secara utuh.

Akhirnya kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini saya harapkan. Untuk menjadi bahan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………………………i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………………..ii

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang ………………………………………..…………………..1
  2. Rumusan Masalah ……………………………………………….………..1
  3. Tujuan …………………………………………………………………….1
  4. Manfaat ……………………………………………………..…………….1

BAB II. PEMBAHASAN

  1. Sistem Mata Pencarian …………………………….……………………..2
  2. Budaya Jambi – Seni Kebudayaan Propinsi Daerah Jambi ……………….3
  3. c.       Jenis Matapencaharian Masyarakat Melayu Jambi ………………..….….6

BAB III. PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………………….…..12
  2. Saran …………………………………………………………………….12

Daftar Pustaka …………………………………………………………………..13

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. a.        Latar Belakang

Latar belakang masalah ini adalah untuk membantu kita untuk mengetahui mata pencarian dan seni yang ada di masyarakat melayu jambi khususnya.

 

  1. b.        Rumusan Masalah
    1. Apa tujuan dan manfaat mata pencarian ?
    2. Apa saja macam-macam mata pencarian masyarakat melayu jambi ?
    3. Apa saja bentuk-bentuk seni yang ada di masyarakat memlayu jambi ?
  2. c.         Tujuan
    1. Agar mengetahui mata pencarian yang ada di masyarakat melayu jambi
    2. Agar mengetahui seni yang terdapat di masyarakat melayu jambi.
    3. Agar mengetahui macam-macam mata pencarian masyarakat melayu jambi
    4. Agar mengetahui istilah-istilah dalam mata pencarian masyarakat melayu jambi
    5. Agar mengetahui system mata pencarian masyarakat melayu jambi
  3. d.        Manfaat

Manfaat makalah ini adalah agar kita lebih mengetahui mata pencarian dan seni masyarakat melayu jambi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

  1. A.           Sistem Mata Pencarian

Hubungan manusia dengan lingkungan yang mereka tempati memiliki ikatan yang kuat dan saling mempengaruhi. Demikian juga dengan kondisi alam dan masyarakat yang hidup di Desa Muara Jambi. Wilayah Desa Muara Jambi yang dibelah oleh aliran sungai Batanghari merupakan sumber daya alam yang sangat kuat mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Dengan mengunakan peralatan menangkap ikan, seperti : tajur, pancing, jalan dan lukah. Kegiatan menangkap ikan dilakukan masyarakat pada waktu malam hari. Mata pancaharian lainnya yang masih berhubungan dengan mata pencaharian adalah pelayanan jasa transportasi. Sebelum adanya sarana jalan darat daerah ini, satu-satunya sarana transportasi yang biasa diman faatkan untuk bisa mencapai daerah ini adalah dengan mengunakan jasa transportasi sungai.

Sekarang jasa ini digunakan sebagai sarana penyeberangan dan digunakan untuk sarana transportasi wisata air, baik di daerah aliran sungai yang ada di Desa Muara Jambi maupun membawa pengunjung yang ingin menuju Desa Muara Jambi dengan menelusuri sungai Batanghari. Terkait dengan sarana penyeberangan yang ada di Desa Muara Jambi, lokasi daerah penyeberangan ini oleh masyarakat setempet disebut dengan nama pelayangan.

Sebelumnya pada pelaksanaan lelang ini hanya diikuti oleh masyarakat yang memiliki modal/dana. Namun dalam kurun waktu dua tahun terakhir, cara.

Sistem mata pencaharian utama penduduk Desa Muara Jambi yang utama adalah dari kegiatan pertanian, baik berupa padi lading maupun perkebunan seperti : Duren, Duku, Cokelat, Karet, Sawit dll. Pada saat musim behumo , selain menunggui kebun meraka yang sedang berbuah (duren,duku). Biasanya pada saat mereka juga melakukan aktifitas menanam jenis tanaman kultikultura, seperti : tomat, cabe dll.

Selain mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan panen buah duren dan duku. Masyarakat juga memilki sumber mata pencaharian tambahan dari pemanfaatan kebun yang ada disekitar perkarangan rumah. Biasanya disekitar perkarangan rumah ini mereka tanami pohon pisang dan tanaman apotik.

  1. Budaya Jambi – Seni Kebudayaan Propinsi Daerah Jambi

Salah satu Propinsi yang ada di Sumatera ini memiliki adat istiadat dari budaya melayu yang cukup dominan. Mari kita kenal kebudayaan Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan nasional Indonesia.

Bahasa daerah di Provinsi Jambi, yaitu Bahasa Melayu. tapi terdapat beberapa dialek lokal seperti seperti misalnya Kerinci, Bungo-Tebo, Sarolangun, Bangko, Jambi Seberang, Anak Dalam serta Campuran. Khusus untuk penduduk Kerinci, ada aksara tersendiri yang bagi masyarak setempat dikenal dengan nama Aksara Encong.

Multietnis, itulah gambaran dari suku daerah di Jambi. Tapi sebagian besar suku yang ada di sana adalah suku Melayu Jambi. Lainnya, terdapat berbagai suku dan etnis dari seluruh daerah di Indonesia. Etnis yang paling dominan adalah stnis Minang, etnis Bugis, suku Jawa, Sunda, Batak, Cina, Arab, hingga dari India.

Untuk memperkuat dan memelihara adat istiadat tersebut, berbagai kegiatan kesenian dan sosial budaya kerap di lakukan, antara lain :

 

1. Tari Asik, dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengusir bala               penyakit;

2. Tradisi Berdah, dilaksanakan saat terjadi bencana dengan tujuan    menolak bencana;

3. Kenduri Seko, bertujuan untuk membersihkan pusaka dalam bentuk keris,             tombak, Al Kitab dalam bentuk Ranji–ranji Kuno;

4. Mandi Safar, dilaksanakan pada hari Rabu di akhir bulan Safar bertujuan untuk   menolak bala;

5. Mandi Belimau Gedang, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan         tujuan menyucikan dan mengharumkan diri; dan

6. Ziarah Kubur, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan   mendoakan arwah leluhur.

Provinsi Jambi sangat kaya akan kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerah adalah anyaman yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut.

Dalam mempertahankan hidupnya mereka memanfaatkan apa yang tersedia di hutan, seperti: meramu, memburu, dan membuka ladang dengan sistem berpindah-pindah.
C.  Jenis-Jenis Matapencaharian Masyarakat Melayu Jambi

  1. a.     Meramu

Meramu adalah mencari dan mengumpulkan hasil hutan, seperti: getah melabui, getah jelutung, getah damar, getah jernang, dan rotan. Mereka menyebut kegiatan ini berkinang atau berimbo. Caranya dengan beranjau, yaitu berjalan-jalan atau melakukan pengembaraan. Menemukan sesuatu yang dicari, apakah itu getah melabui, getah jelutung, dan atau rotan adalah sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan tuah (keberuntungan). Hal itu disebabkan banyaknya jenis pohon, sehingga seringkali menutupi pohon yang dicari (tidak terlihat). Relatif sulit dan atau mudahnya menemukannya itulah yang kemudian membuahkan adanya semacam kepercayaan bahwa pohon-pohon tersebut mempunyai kekuatan gaib.

Berkinang atau berimbo biasanya dilakukan secara berkelompok (lebih dari satu orang) dan biasanya dilakukan oleh laki-laki. apabila di dalam hutan ada yang terpisah atau tertinggal, maka orang yang ada di depan akan memberi tanda dengan menancapkan sebatang kayu yang pada bagian atasnya dibelah dan diselipkan ranting. Pangkal ranting diarahkan ke suatu tempat yang akan dituju. Dengan demikian, orang yang ada di belakangnya akan tahu persis kemana harus menyusulnya. Jika ranting itu tidak disisakan daunnya, maka penyelipannya dilakukan agak miring ke atas. Bagian pangkal ranting yang miring ke atas itulah yang memberi petunjuk ke arah mana seseorang harus menyusulnya.

  1. b.    Berburu

Senjata yang mereka gunakan dalam berburu adalah tombak. Ada dua jenis tombak yang mereka miliki. Pertama, tombak yang panjangnya kurang lebih setinggi orang dewasa dan bagian mata tombaknya ber-berangko (diberi sarung). Tombak jenis ini oleh mereka disebut kujur berongsong. Cara menggunakannya adalah dengan memegang bagian tengahnya, kemudian dilemparkan (dengan satu tangan) ke sasaran. Kedua, tombak yang panjangnya hampir mencapai 3 meter. Di ujung tombak ini ada semacam pisau yang runcing yang kedua sisinya tajam (bentuknya lebih lebar dan lebih pendek daripada tombak jenis yang pertama). Cara mempergunakannya adalah tangan kanan memegang pangkalnya, kemudian tangan kiri menopangnya, baru dilemparkan ke arah sasaran (arahnya selalu ke arah kiri).

  1. c.     Menangkap Ikan

Kegitan lainnya yang ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup adalah menangkap berbagai jenis ikan, termasuk udang dan ketam di sungai, dengan peralatan: pancing, jala, tombak, perangkap ikan (kubu-kubu), dan pagar-pagar ikan. Terkadang mereka nubo, yaitu menggunakan racun dari akar-akar nubo. Caranya akar-akar tersebut dimasukkan ke sungai, maka ikan akan mabuk dan terapung. Dengan demikian, tinggal mengambil dan memasukkannya ke sebuah wadah yang disebut dukung atau ambung.

  1. d.    Berladang

Sistem perladangan yang diterapkan oleh orang Kubu adalah berpindah-pindah. Ada 3 faktor yang menyebabkan mereka melakukan perpindahan, yaitu: pergantian musim, semakin langkanya binatang buruan dan hasil sumber hutan lainnya, dan semakin tidak suburnya tanah garapan. Selain itu, kematian juga merupakan faktor yang pada gilirannya membuat mereka berpindah tempat. Hal ini yang erat dengan kepercayaan bahwa kematian adalah sesuatu yang dapat menimbulkan kesialan bagi kelompoknya. Untuk menghindari hal itu, maka mereka melakukan perpindahan. Dan, perpindahan yang disebabkan oleh adanya kematian disebut melangun.

Berladang adalah suatu proses. Sebagai suatu proses maka mesti dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.

  1. a.     Ada empat tahap yang mereka lalui dalam penggarapan sebuah ladang.
    1. Tahap Yang Pertama Adalah Pembukaan Ladang.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi penebasan pepohonan kecil, semak belukar, dan mengumpulkan tebasan ke tengah areal yang akan dijadikan sebagai ladang. Kemudian, membiarkannya selama kurang lebih dua minggu (14 hari) agar tebasan menjadi kering. Oleh karena itu, tahap yang pertama ini sering disebut sebagai menebas.

  1. Tahap Yang Kedua Adalah Penebangan Pepohonan.

Peralatan yang digunakan hanya berupa parang dan beliung. Jika pohon yang akan ditebang relatif besar, maka penebangan dilakukan pada bagian atas pohon dengan yang lingkarannya relatif lebih kecil ketimbang bagian bawah pohon.

Sistem yang digunakan adalah tugal, dengan cara dua atau tiga orang laki-laki memegang sebatang kayu kecil yang kira-kira panjangnya 1,5 meter yang salah satu ujungnya runcing.

  1. Tahap keempat (terakhir) adalah menuai.

Tahap ini dilakukan setelah padi menguning (kurang lebih setelah berumur 5 bulan). Caranya, padi yang telah menguning itu dipotong gagangnya dengan alat yang disebut tuai (ani-ani).

Dukung adalah sejenis bakul atau keranjang yang terbuka, pipih, panjang, segi-empat, dan bertali. Cara membawa atau memepergunakannya diletakkan di punggung (menyerupai ransel)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. a.                  Kesimpulan

 

Sistem mata pencaharian utama penduduk Desa Muara Jambi yang utama adalah dari kegiatan pertanian, baik berupa padi lading maupun perkebunan seperti : Duren, Duku, Cokelat, Karet, Sawit dll.

Bahasa daerah di Provinsi Jambi, yaitu Bahasa Melayu. tapi terdapat beberapa dialek lokal seperti seperti misalnya Kerinci, Bungo-Tebo, Sarolangun, Bangko, Jambi Seberang, Anak Dalam serta Campuran. Khusus untuk penduduk Kerinci, ada aksara tersendiri yang bagi masyarak setempat dikenal dengan nama Aksara Encong.

Adapun sebutan yang gunakan dalam masyarakat SAD ( Suku Anak Dalam) yaitu, Meramu, menangkap ikan, berburu, dan beraladang.

 

Provinsi Jambi sangat kaya akan kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerah adalah anyaman yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia. Hasil anyaman ini bermacam–macam pula, mulai dari bakul, sumpit, ambung, katang–katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut Sempirai, Pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah hasil tenun yang sangat terkenal, yaitu tenunan dan batik motif flora

  1. b.                  Saran

Dari sekian banyak masyarakat melayu jambi pada umumnya merupakan masyarakat petani. Maka mulai dari sini kita harus bisa mengenal istilah-istilah dalam masyarakat melayu jambi, misalnya: kata menuai, meramu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: